Sadarkah teman-teman, kalau semakin hari semakin sering kita mendengar dan melihat bencana alam yang terjadi di sekitar kita? Berita tentang banjir, kekeringan, kebakaran hutan, terjangan puting beliung dan beberapa jenis bencana lainnya, seakan menjadi informasi yang datang hampir setiap hari.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sedang ada masalah dengan bumi yang kita tinggali. Faktanya, iklim berubah secara terus menerus, dan menimbulkan dampak yang bahkan bisa mengancam keberlangsungan kehidupan.
Ada beberapa faktor yang memicu terjadinya perubahan iklim, dan paling banyak disebabkan oleh aktivitas manusia. Emisi bahan bakar kendaraan bermotor, pembakaran hutan, penggunaan CFC yang berlebihan, limbah gas yang tidak dikelola dengan baik, dan berbagai perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan akan menghasilkan gas rumah kaca yang akan memicu timbulnya pemanasan global.
Pemanasan global menyebabkan kerusakan lapisan ozon yang kemudian akan menimbulkan perubahan pola cuaca dan memicu terjadinya perubahan iklim. Perubahan iklim memiliki dampak yang sangat besar. Naiknya suhu muka bumi, es di kutub mencair, kenaikan muka air laut, adalah beberapa dari sekian banyak akibat yang ditimbulkan dari fenomena perubahan iklim ini.
Bumi semakin tua dan rapuh. Itulah kenyataan yang kita hadapi. Semua negara, tentu tak tinggal diam menyaksikan fenomena ini. Di tahun 2015 lalu, 171 negara berkomitmen untuk menghentikan peningkatan suhu bumi agar tidak melebihi 2 derajat celcius dan tertuang dalam Perjanjian Paris dan ditandai dengan pembentukan komitmen bersama Nationally Determined Contribution (NDC)
Di negara kita, pemerintah merespon dengan mengeluarkan Undang-Undang no 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement To The United Nation Framework Conventiom On Climate Change. Dalam hal ini pemerintah menetapkan target penurunan gas rumah kaca dalam NDC Indonesia sebesar 29 persen dengan upaya sendiri, dan 41 persen dengan dukungan internasional , dengan kurun waktu hingga 2030.
Mitigasi Perubahan Iklim, Bersama Melangkah Menghadapi Dampak Perubahan Iklim
Dalam sebuah paparan yang bertajuk “Promoting Adaptation and Mitigation to Climate Change (Examples form Europe and South East Asia”, Norbert Binternagel menyatakan bahwa Indonesia adalah penyumbang gas emisi terbesar ketiga setelah Amerika Serikat dan China.
Norbert Binternagel memprediksi bahwa sebagai dampak perubahan iklim, Asia Tenggara akan mengalami krisis persediaan air bersih, curah hujan tinggi, badai topan tropis yang meningkat, dan juga kekeringan pada tahun 2050. Di Eropa, perubahan iklim juga akan menyebabkan penurunan gletser, gelombang panas yang membawa wabah penyakit, dan juga kekeringan di wilayah Eropa Selatan.
Kalau sudah tahu kedepannya akan seperti itu, apa lantas kita diam saja? Yang kemudian dilakukan banyak pihak adalah melakukan mitigasi perubahan iklim; usaha untuk mengurangi resiko terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca.
Beberapa langkah global yang kemudian dilakukan banyak negara untuk mengatasi atau mengurangi dampak yang ditimbulkan karena perubahan iklim ini, baik itu dari pemerintah, lembaga non pemerintah ataupun yang sifatnya kerjasama antar negara maupun antar organisasi.
Program Kampung Iklim merupakan salah satu program pemerintah sebagai satu cara untuk melakukan mitigasi perubahan iklim di Indonesia. Sistematika pelaksanaan program ini adalah dengan melakukan sosialisasi dan memberikan penghargaan kepada masyarakat lokal yang turut serta dalam membantu mitigasi perubahan iklim.
Perusahaan swasta sebagai lembaga non pemerintah pun sudah seharusnya bekerjasama untuk membantu proses mitigasi perubahan iklim dengan cara tidak melakukan pembakaran lahan secara brutal, melaporkan jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan secara jujur dan transparan, dan melakukan pemilahan terhadap sampah yang mereka hasilkan.
Peran Pemuda Dalam Upaya Pengendalian Perubahan Iklim
![]() |
Image freepik.com |
Generasi muda, adalah penentu masa depan bumi, karena kedepannya nanti merekalah yang memegang peranan dan juga paling merasakan dampak perubahan iklim di masa depan. Ditambah lagi kita tinggal di negara dengan hutan tropis dan hutan hujan yang cukup luas. Apa yang terjadi di Indonesia, akan menentukan kondisi bumi.
Karena itulah peningkatan pemahaman dan kesadaran akan permasalahan perubahan iklim menjadi sesuatu yang sangat krusial. Sebisa mungkin #MudaMudiBumi bisa menjadi agen perubahan untuk hal-hal yang lebih ramah lingkungan, seperti:
- Mengembangkan riset dan teknologi agar masyarakat bisa beralih dari sumber energi yang berasal dari fossil (minyak bumi, batubara) ke sumber energi terbarukan (panas bumi, tenaga matahari, air, bioenergi)
- Menjalani gaya hidup yang lebih “sehat”. Meminimalisir plastik, stereofoam, menggunakan moda transportasi umum atau alat transportasi yang lebih ramah untuk lingkungan.
- Melindungi hutan yang tersisa, beserta semua isinya. Menjaga keragaman hayati, bahkan di lingkungan yang terdekat. Keberagaman flora dan fauna di lingkungan sekitar adalah tanggung jawab kita untuk menjaga kelestariannya.
Waktunya Bergerak dengan Aksi Nyata!
![]() |
Inage freepik.com |
Semua bisa berkontribusi dalam usaha mitigasi perubahan iklim bumi ini. Mulai Mulai dari hal yang sering kita anggap sederhana dan sering kita lakukan setiap hari.
Contoh sederhana, tidak perlu sungkan ketika harus membawa tas kain saat ke pasar tradisional, demi meminimalisir sampah plastik.
Kita tahu, sampah plastik merupakan masalah pelik. Mirisnya, Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia.
Memang benar kalau plastik menawarkan banyak kepraktisan. Tapi perlu diketahui juga bahwa dari proses produksi, konsumsi hingga pembuangannya, plastik menghasilkan emisi karbon yang tinggi sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim dan menyebabkan bumi semakin panas.
Selain plastik, emisi dari gas pembuangan kendaraan bermotor adalah masalah bersama.Tingkat penggunaan kendaraan bermotor yang sangat tinggi di masyarakat menjadi penyumbang utama emisi gas rumah kaca di atmosfer bumi.
Satu langkah kecil yang akan berdampak besar adalah ketika kita menggunakan alat transportasi publik atau minim polusi.
Menggiatkan kampanye bike to work juga merupakan langkah maju untuk mengurangi kadar karbon dioksida di udara. Untuk saya pribadi, meskipun belum bisa rutin, tapi pandemi Covid-19 rupanya telah membawa saya untuk kembali mencintai aktivitas yang sudah puluhan tahun saya tinggalkan, yakni bersepeda.
Bijak dalam menggunakan plastik, kembali menggunakan alat transportasi yang ramah lingkungan adalah dua contoh dari sekian banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk memperpanjang usia bumi. Selain hal-hal tersebut, beberapa sikap/prilaku ramah lingkungan sebagai usaha untuk menjaga bumi tetap lestari antara lain:
- Menggunakan kembali (re-use) dan mendaur ulang (me-recycle) sampah rumah tangga.
- Menggunakan alat-alat rumah tangga yang hemat listrik. Di samping menghemat tagihan, inilah salah satu cara kita menjaga bumi. #UntukmuBumiku, saya bersumpah lebih memilih alat-alat rumahtangga berteknologi Inverter, meskipun secara harga beli di awal bisa jadi lebih mahal.
- Mematikan perangkat elektronik saat tidak terpakai. Cabut stop kontak saat tidak ada perangkat yang terhubung.
- Tanam pohon, hijaukan sekeliling. Tak harus tanaman besar, bahkan satu tanaman pun saya yakin itu bermanfaat untuk keseimbangan alam.
- Hemat air. Air adalah kebutuhan manusia sepanjang jaman. Gunakan seperlunya, dan beri kesempatan anak-cucu dan generasi berikutnya untuk menikmatinya.
#TimeForActionIndonesia, sekaranglah saatnya bagi anak muda untuk memilih. Bertahan dengan gaya hidup yang bisa membahayakan kelangsungan bumi, atau mau berbenah dan berubah demi masa depan planet yang kita tinggali ini. Bumi yang seh adalah harapan, masa depan kita semua.
Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Mitigasi_perubahan_iklim
http://ditjenppi.menlhk.go.id/berita-ppi/4011-kontribusi-generasi-muda-indonesia-dalam-upaya-pengendalian-perubahan-iklim.html
Nah, sekarang penting banget buat melestarikan bumi kalau ingat kerusakan yang kita akibatkan semakin parah dan berdampak negatif untuk kehidupan juga.
BalasHapusiya jangan sampai terlambat ya kita menyadari kesalahan kita tidak menjaga lingkungan saat bencana alam terjadi di mana-mana
BalasHapus